Recent Posts

Gerakan Keluarga Berdoa (Saja)?

Rabu, 14 Juli 2021

Oleh: Atik Hermawati

Doa ialah senjata bagi seorang mukmin. Wabah yang terjadi saat ini ialah atas kehendak Allah SWT, Sang Pencipta. Namun, apakah semua itu hanya cukup dengan 'gerakan berdoa'? Bukankah ada usaha maksimal yang harus dilaksanakan oleh masyarakat maupun negara?

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa dan warga desa untuk menggelar doa bersama. Mengimbau agar seluruh pihak melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing guna menyikapi kondisi melonjaknya angka Covid-19 di Indonesia (Detiknews.com, 03/07/2021).

Kemudian ungkapan duka cita kepada masyarakat Indonesia yang menjadi korban pandemi Covid-19 disampaikan Presiden Joko Widodo. Hal itu disampaikan saat menghadiri acara Pray From Home yang diadakan secara daring melalui akun Youtube Sekretariat Presiden (11/7). Ia juga mengimbau masyarakat untuk berdoa bersama, yang sebelumnya Kementerian Agama menggelar acara doa bersama dari rumah lintas agama pada pukul 14.00 WIB, yang bertajuk #PrayFromHome: Dari Rumah Untuk Indonesia (Kompas.tv, 11/07/2021).


Berdoa dan Berusaha yang Tidak Sinkron

Masih banyak masyarakat yang melanggar aturan PPKM Darurat. Kebijakan yang plin-plan dan pilih kasih, membuat mereka tak mau menaati apalagi demi sesuap nasi. Pemerintah mencontohkan sendiri saat pembukaan akses WNA pada awal mula pandemi di Indonesia. Pariwisata dibuka demi laba. Pandemi pun disambut dan kini menggila. Hingga PSBB dan akhirnya PPKM Darurat diterapkan, namun kebutuhan rakyat tak diperhatikan.

Kini Gerakan Keluarga Berdoa di rumah masing-masing pun diimbau. Diharapkan mampu menangani wabah di tengah karut-marutnya berbagai kebijakan, menenangkan masyarakat di tengah tingginya korupsi para pemangku kekuasaan, serta mendiamkan masyarakat di tengah dukungan pemerintah yang hitung-hitungan baik terhadap nakes maupun masyarakat umumnya.

Berdoa sejatinya menyadari bahwa wabah ini ialah kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Perlu ikhtiar apa yang diperintahkan oleh Sang Pencipta kepada masyarakat, terutama negara sebagai pengurus masyarakat. Sehingga berdoa harus diimbangi dengan upaya maksimal sesuai syariat Islam. Bukan kebijakan yang asal-asalan apalagi diniatkan untuk mengambil keuntungan di atas penderitaan.

Asas sekuler dalam sistem kapitalisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan, menjadi akar masalah berbagai kebijakan yang tidak sinkron. Berbagai usaha tidak berdasarkan halal-haram syariat Allah SWT, melainkan nafsu para pemangku kekuasaan. Yang akhirnya terjadi kezaliman massal yang tidak bisa ditebus hanya dengan doa pengharapan.


Kembali pada Syariat-Nya ialah Solusi Tuntas

Pandemi yang terjadi ialah teguran dari Allah SWT agar manusia kembali pada seluruh aturan-Nya. Allah memberi petunjuk pada yang beriman dan mengambil perintah-Nya. Allah SWT berfirman, " Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah;dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (At-Taghabun: 11).

Semua kemaksiatan manusia menyebabkan hidup mereka sengsara, jauh dari keberkahan. Allah SWT berfirman, "Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri" (An-Nisa: 79). 

Sehingga mengatasi pandemi ini tidak cukup dengan doa saja melainkan harus dengan taubatan nasuha oleh masyarakat dan negara. Taubat untuk kembali pada aturan-Nya, sehingga berbagai kebijakan didasarkan pada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Dalam segala aspek, baik dalam tatanan ekonomi, sosial, maupun negara semuanya diatur berdasarkan syariat yang diturunkan Allah SWT, yakni Islam yang kaffah.

Dengan izin Allah, apabila negara diatur dengan syariat-Nya, keberkahan akan tercurah dari langit dan bumi. Bahkan saat pandemi seperti ini, semua itu mudah bagi Allah untuk memberikan pertolongan bagi orang-orang yang beriman.

Wallahu a'lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar