Recent Posts

Ikhtiar Pengemban Dakwah Saat Negara Abai Dengan Pandemi

Senin, 12 Juli 2021



Oleh : Ummu Hanif, Pengamat Sosial Dan Keluarga

Varian Delta merupakan salah satu varian baru virus corona yang tengah mewabah di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Dia memiliki kemampuan transmisi atau penularan yang sangat tinggi, varian ini lebih mudah menular dibandingkan varian lainnya. 

Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc SpP(K), dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dari Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan bahwa Delta juga bisa mengelabui sistem imun tubuh. “Jadi, kalau ada virus masuk, biasanya otomatis sistem imun kita akan bereaksi melakukan perlawanan. Nah, virus (varian Delta) ini mengelabui sistem imun kita dan seseorang itu akan menjadi sakit,” jelas Erlina dalam webinar bertajuk “Isolasi Mandiri Pasien Covid”, Jumat, (2/7/2021). 

Varian delta telah dikaitkan dengan penularan di rumah tangga yang diperkirakan 60 persen lebih tinggi dibandingkan penularan varian lain. Erlina juga menjelaskan, infeksi varian Delta menimbulkan gejala yang sedikit berbeda dari varian yang lama. Adapun gejala yang muncul cenderung flu yang berat, seperti sakit kepala, demam, batuk, pilek, dan bersin-bersin. Menurut Erlina, orang yang memakai masker akan mudah jatuh sakit jika menghirup udara yang mengandung virus. Lebih lanjut, Erlina mengatakan bahwa varian Delta dapat berpengaruh terhadap efektivitas vaksin sehingga harus diwaspadai. (www.kompas.com, 03/07/2021).

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, masalah Covid-19 selama ini banyak disalahpahami sehingga melahirkan sikap yang salah. Kabar – kabar hoax telah menyebar sedemikian gencar, menjadikan masyarakat memiliki mazhab sendiri seputar pandemi. Ditambah dengan kebijakan yang tidak sistemis, menyeluruh, dan terukur dari awal, menyebabkan ledakan kasus ini seperti puncak gunung es. 

Melihat fenomena ini, kita sebagai seorang muslim harus openmind dan memiliki mindset yang benar. Karena meski pemerintah abai, kita sebagai pribadi harus tetap bisa survive demi kehidupan ini. Apalagi bagi para pengemban dakwah, kita harus ingat bahwa tubuh kita memiliki hak untuk kita perhatikan, demikian juga tubuh kita adalah aset terbaik untuk bisa menjalankan aktifitas dakwah demi melanjutkan kehidupan islam. Maka ada beberapa langkah – langkah yang harus kita lakukan.
 
Berbicara Covid-19, dia adalah virus. Virus ini—sebagaimana virus yang lain—adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan memiliki potensi tertentu. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh melalui dua lubang, hidung dan mulut, kemudian masuk dan bersarang di paru-paru. Serangan virus ini bisa menyebabkan pengentalan bahkan darah beku, yang mengakibatkan penderita kekurangan oksigen. Meski, masing-masing penderita kondisi daya tahan tubuhnya bisa berbeda-beda. Karena itu, ada yang bisa sembuh dan tidak jarang yang berakhir dengan kematian.  Karena itu, langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk menangkal atau menghindari masuknya virus ini di dalam tubuh kita adalah disiplin memakai masker, tidak banyak bicara, dan sedikit interaksi dengan orang asing. Ketika bicara tidak membuka masker.

Kita juga harus paham bahwa tangan merupakan media pengantar kuman yang optimal. Sehingga agar kuman yang menempel di tangan ketika digunakan untuk mengusap mata, hidung, atau mulut tidak menjadi alat penghantar masuknya virus, kita harus rajin mencuci tangan. Begitu juga dengan pakaian dan badan, setelah terpapar bakteri dari luar segera mandi dan dibersihkan.

Selain itu, penguatan fisik adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Konsumsi makanan sehat dan vitamin, mengurangi konsumsi makanan yang mengandung kadar gula tinggi, rajin olah raga juga vaksinasi, bisa memberikan proteksi dari dalam agar virus yang menyerang bisa ditangkal oleh daya tahan tubuh. Khusus untuk vaksin, kita tetap perlu meneliti kehalalannya, sehingga lebih teliti memilih jenis vaksin yang akan kita gunakan.

Setelah ikhtiar secara fisik, ikhtiar secara nonfisik, baik secara psikis maupun spiritual perlu kita lakukan. Melanggengkan zikir, zikir pagi dan petang, menjaga qiyamul lail, salat Duha, membaca Al-Qur’an, dan terus-menerus mengukuhkan iman. Terutama iman kepada qadha’ dan qadar, tawakal, rezeki, dan ajal. Selalu husnuzhan kepada Allah. Terlebih dalam situasi yang serba amburadul, bahkan nyaris tidak ada yang bisa diharapkan seperti saat ini. Semoga Allah jaga kita, sebagaimana kita berkehendak ,menjaga agamaNya. Aamiin.

Wallahu a’lam bi ash showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar