Recent Posts

Imbauan Keluarga Berdo'a di Tengah Wabah, Mampukah Entaskan Masalah?

Rabu, 14 Juli 2021



Oleh : Melitasari

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk lemah dan terbatas, ia memiliki ghorizah Taddayun atau naluri beragama sekalipun dalam hidupnya tidak memiliki agama, namun fitrahnya mengakui bahwa ada Dzat yang lebih tinggi darinya. Terbukti ketika dirinya terancam atau merasa ketakutan, ia butuh akan sosok pelindung. Salah satu cara memohon perlindungan adalah dengan berdo'a.
Seperti dilansir detikNews, 3/7/2021.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa dan warga desa untuk menggelar doa bersama.

Dalam surat resmi tersebut, Halim mengimbau agar seluruh pihak melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Adapun doa ini dilakukan guna menyikapi kondisi melonjaknya angka COVID-19 di Indonesia.
"Doa bersama dilakukan bersama keluarga di rumah masing-masing," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/7/2021).

Halim berharap doa bersama dapat digelar secara rutin yang dimulai serentak pada hari ini pukul 18.00 waktu setempat di kediaman masing-masing.
"Dalam doa memohon kepada Allah SWT dan Tuhan yang Maha Esa agar pemimpin dan seluruh warga negara Indonesia diberikan kesehatan, keselamatan, dan perlindungan dari wabah COVID-19," katanya.

Halim pun mengimbau agar seluruh pihak berdoa agar kuat dan tabah menghadapi pandemi. Selain itu, mereka juga diimbau untuk mendoakan pemimpin dan masyarakat Indonesia dapat saling membantu dan menguatkan, serta bergotong royong dalam menangani pandemi COVID-19.

Namun hanya sekedar berdo'a bisakah atasi bencana? Tentu tidak. Allah memerintahkan manusia untuk berikhtiar terlebih dahulu lalu baru kemudian bertawakal dan berdo'a Sebagaimana firman Allah dalam Surat An Nisa Ayat 32.

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (An Nisa [4] : 32)

Dalam ayat ini Allah akan memberikan karunia kepada siapa yang bersungguh-sungguh dalam berikhtiar dan melengkapi ikhtiarnya dengan do'a. Sebab ikhtiar dan do'a adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ikhtiar tanpa berdo'a merupakan hal yang sia-sia, dan begitupun sebaliknya jika berdo'a tanpa adanya ikhtiar, maka tidak akan menghasilkan apa-apa.
Selama pandemi terjadi dalam kurun waktu lebih dari setahun ini apakah pemerintah maksimal dan bersungguh-sungguh dalam mengatasinya? Jika melihat kebijakan-kebijakan yang kerap kali membingungkan, pemerintah terkesan tidak pernah bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan masalah.

Dalam menangani pandemi ini, pemerintah selalu menimbang kebijakan berdasarkan pihak-pihak berkepentingan, bukan berdasar pada kepentingan rakyat secara umum. Terlihat dari kebijakan-kebijakan yang lebih pro kepada korporat daripada kepada rakyat. Sehingga nyawa rakyat dianggap tidak begitu penting untuk rezim kapitalis ini.

Misalnya dalam kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang hanya membatasi sektor anomali dan menutup tempat-tempat peribadahan, namun tetap membiarkan sektor industri berjalan 100%. Tentu saja PPKM darurat ini bukanlah kebijakan yang efektif untuk menekan angka penyebaran virus.

Maka himbauan berdo'a bersama keluarga saja tidak cukup untuk mengatasi wabah, perlu adanya ikhtiar maksimal dengan pengambilan kebijakan yang tepat untuk menyetop laju penyebarannya, yaitu dengan kebijakan karantina atau lockdown. Selain itu perlu adanya taubatan nasuha oleh seluruh masyarakat dan pemerintah.

Sebab apabila benar membutuhkan pertolongan Allah, sudah seyogyanya juga manusia mengakui bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur dengan segala aturan-Nya. Maka manusia tidak boleh semaunya membuat aturan sendiri dan mencampakkan hukum Illaahi. Saatnya kembali pada aturan yang sebenarnya dengan menerapkan Islam Kaffah untuk menangani wabah dan segala masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar