Recent Posts

Kesalahan Fatal Saat Pendemi

Kamis, 08 Juli 2021



Oleh Rifka Fauziah Arman, A.Md.Farm (Tenaga Teknis Kefarmasian dan Pendidik)

 

4L yakni Lemah Letih Lesu Lelah dengan covid-19 saat ini. Memasuki musim kedua dari pandemi ini ternyata sangat berdampak buruk bagi negeri ini. Karena dalam hanya beberapa hari yang tadinya masih stabil penambahan kasus pasien positif covid-19 tiba-tiba melonjak sangat pesat hingga mencapai 2 juta kasus dan Jakarta mencetak rekor dengan angka kasus tertinggi bahkan tak sedikit banyak anak-anak yang ikut menjadi korban positif covid-19 ini.

Dilansir dari halaman instagram @kemenkes_ri Indonesia pada tanggal 21 Juni 2021 sudah mencapai 2.004.445 kasus positif dengan penambahan 14.536 kasus dan ini menjadi rekor tertinggi bagi Indonesia saat ini. Saat ini pun Jakarta masih menjadi 3 kota teratas dengan kasus tertinggi, padahal sebelumnya Jakarta sudah mulai menurun bahkan hingga mencapai 100 kasus perhari.

Kini sudah tidak tertampung lagi pasien pasien covid-19, dalam instagram @dkijakarta per tanggal 22 Juni 2021 ketersediaan tempat tidur di Rumah Sakit yang merawat pasien covid-19 sudah mencapai 90% dan ICU mencapai 80%  baik dari RS Negeri, swasta maupun wisma atlet yang menjadi pusat perawatan covid-19. Terlebih lagi gelombang kedua covid-19 saat ini lebih ganas dan mengerikan, karena adanya beberapa varian baru terutama dari India yang sangat membahayakan. Diantaranya ada varian alpha, beta dan delta yang paling parah. Sedangkan saat ini varian delta yang paling banyak dialami pasien covid-19.

Akibat melonjaknya pandemi ini banyak rencana yang mulai tertunda kembali bahkan terdengar isu lockdown skala kecil jika sudah banyak menular dalam satu lingkungan. Rencana yang batal diantaranya tentu saja pelajaran tatap muka disekolah yang tadinya akan dimulai awal tahun ajaran baru pada bulan Juli mendatang, tapi semua itu tertunda melihat fakta bahwa sekarang banyak sekali korban anak-anak dan balita yang terserang virus ini.

Kemudian mulai diberlakukannya kembali PSBB ketat seperti peraturan dimalam hari untuk mal, restoran dan cafe harus tutup lebih awal, tidak boleh ada kerumunan sama sekali bahkan jika itu pernikahan, kemudian razia masker dan protokol kesehatan dimana-mana. Belum lagi banyak acara-acara yang sudah terjadwalkan dan menjelang hari raya idul adha menjadi batal semuanya.

Menurut Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra agar pemerintah menerapkan kebijakan yang radikal agar keluar dari lonjakan kasus covid-19 ini. Ia menyarakan dengan dua pilihan yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Karena hanya inilah satu-satunya jalan untuk mengatasi pandemi saat ini terutama lockdwon regional yang dinilai paling logis, melihat dari keberhasilan beberapa negara dalam mengatasi pandemi ini. Menurutnya kebijakan gas-rem yang diterapkan oleh Presiden tidak cukup kuat untuk mengatasi pandemi ini, karena kebijakan ini terkatung-katung yang membuat kondisi hingga menunngu bom waktu dengan melonjaknya kasus saat ini. (CNN Indonesia 20/06/2021)

Tak luput juga pemberitaan kasus ini dari kalangan dokter yang mengadakan konferensi Perhimpunan Dokter-Dokter spesialis yang menyatakan bahwa tidak ingin kesehatan di Indonesia kolaps hingga tidak mampu lagi melayani pasien yang membludak saat ini. Karena jika kesehatan di Indonesia kolaps maka ekonomi, pendidikan bahkan hingga berbagai aspek akan berpengaruh dan menurun di kalangan masyarakat. Dari konferensi tersebut para dokter menyarankan untuk PKKM secara menyeluruh dan merata hingga bisa memaksimalkan tujuan dari PKKM tersebut, kemudian pemerintah juga harus mempercepat tersalurnya vaksin ke seluruh rakyat juga memperingatkan rakyat bahwa ada varian baru yang berbahaya dan belum banyak penelitian tentang itu dan tetap menjaga protokol kesehatan. (Kompas.com 19/06/2021)

Dari pemaparan fakta diatas jika ditarik ulur saat awal virus ini datang sudah terdapat banyak kesalahan di negeri ini. Pertama dari lemahnya kebijakan yang dibuat oleh pemerintah seperti tarik ulur dengan ketakutan ekonomi yang merosot, padahal sebelum pandemi ini datang ekonomi sudah merosot. Seperti kebijakan PSBB yang “nanggung” hingga akhirnya berhasil menurunkan angka kasus covid-19 tapi saat pemerintah melonggarkan kembali, nyatanya melonjak begitu cepat. Begitu pula dengan datangnya orang-orang luar negeri dalam kuota yang besar padahal dinegara mereka sedang menghadapi gelombang covid-19 seperti India hingga sekarang Indonesia terancam dengan varian covid-19 terbaru yang berasal dari sana.

Kedua, kurangnya edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang covid-19 saat ini, karena banyaknya berita hoax yang tersebar tak sedikit rakyat yang tidak peduli dengan pandemi bahkan menuduh pemerintah dan rumah sakit merekayasa kondisi saat ini hingga tersiar kabar tentang konspirasi virus ini. Pada faktanya virus ini memang ada dan bukan konspirasi, benar atau tidaknya pemerintah dan rumah sakit merekayasa tapi dari kondisi yang kita lihat memang nyata. Tetapi jika masyarakat merasa dibohongi oleh pemerintah pun menjadi kewajaran karena memang pemerintah bersikap bertele-tele menghadapi pandemi dan tidak adanya ketegasan yang bisa membuat rakyat jeli dan tunduk terhadap aturan pemerintah apalagi setelah adanya korupsi dana bantuan sosial.

Kesalahan yang terjadi ternyata berasal dari pemerintah dan sistem yang kurang tegas karena adanya tekanan dari pihak lain hingga membuat rakyat menjadi korban ekonomi, pendidikan hingga kematian. Sistem kapitalis yang mengutamakan para pemilik kuasa tertinggi dengan mengatasnamankan agar ekonomi bangkit, padahal banyak rakyat menjerit. Bantuan seadanya dan tidak merata, kebijakan semaunya dengan tebang pilih, siapa yang memiliki uang ia bebas mengadakan apapun hingga melanggar protokol kesehatan. Inilah akibat bobroknya sistem yang dipakai oleh pemerintah. Sistem yang dibuat oleh manusia, dapat dirubah sesuka hati dan semaunya sendiri.

Jika sedari awal memakai sistem islam sebagai solusi mungkin tidak akan terjadi hal buruk pada negeri ini maupun dunia ini. Memakai lockdown total sebagai solusi, memiliki baitul mal sebagai sumber konsumsi, mematuhi khalifah sebagai pemimpin bagi umat muslim di dunia ini. Wallahu’alam bisshawwaab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar