Recent Posts

Ketika Negara Abai Terhadap Pandemi, Kita Harus Tetap Survive Secara Pribadi

Senin, 12 Juli 2021



Oleh : Ummu Hanif, Pengamat Sosial Dan Keluarga

Di tengah masih menyebarnya virus corona varian Delta, masyarakat kembali dikejutkan dengan adanya kasus virus corona varian baru di Indonesia. Varian tersebut yakni virus corona varian Kappa B.1617.1 yang telah ditemukan dalam kasus infeksi Covid-19 di DKI Jakarta. Seperti varian Delta B.1617.2, Kappa B.1617.1 juga varian yang pertama kali ditemukan di India. Virus corona memang telah bermutasi sehingga melahirkan varian baru. Selain Delta dan Kappa, tercatat juga ada varian Alpha dan Beta. Indonesia kini tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19 varian Delta. Sedangkan varian Alpha, Kappa, dan Delta sebelumnya telah memicu rekor infeksi di beberapa bagian Eropa dan anak benua. (www.kompas.com, 04/07/2021)

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, masalah Covid-19 selama ini banyak disalahpahami sehingga melahirkan sikap yang salah. Kabar – kabar hoax telah menyebar sedemikian gencar, menjadikan masyarakat memiliki mazhab sendiri seputar pandemi. Ditambah dengan kebijakan yang tidak sistemis, menyeluruh, dan terukur dari awal, menyebabkan ledakan kasus ini seperti puncak gunung es. 

Melihat fenomena ini, kita sebagai seorang muslim harus openmind dan memiliki mindset yang benar. Karena meski pemerintah abai, kita sebagai pribadi harus tetap bisa survive demi kehidupan ini. Apalagi bagi para pengemban dakwah, kita harus ingat bahwa tubuh kita memiliki hak untuk kita perhatikan, demikian juga tubuh kita adalah aset terbaik untuk bisa menjalankan aktifitas dakwah demi melanjutkan kehidupan islam. Maka ada beberapa langkah – langkah yang harus kita lakukan.
 
Berbicara Covid-19, dia adalah virus. Virus ini—sebagaimana virus yang lain—adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan memiliki potensi tertentu. Virus ini bisa masuk ke dalam tubuh melalui dua lubang, hidung dan mulut, kemudian masuk dan bersarang di paru-paru. Serangan virus ini bisa menyebabkan pengentalan bahkan darah beku, yang mengakibatkan penderita kekurangan oksigen. Meski, masing-masing penderita kondisi daya tahan tubuhnya bisa berbeda-beda. Karena itu, ada yang bisa sembuh dan tidak jarang yang berakhir dengan kematian.  Karena itu, langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk menangkal atau menghindari masuknya virus ini di dalam tubuh kita adalah disiplin memakai masker, tidak banyak bicara, dan sedikit interaksi dengan orang asing. Ketika bicara tidak membuka masker.

Kita juga harus paham bahwa tangan merupakan media pengantar kuman yang optimal. Sehingga agar kuman yang menempel di tangan ketika digunakan untuk mengusap mata, hidung, atau mulut tidak menjadi alat penghantar masuknya virus, kita harus rajin mencuci tangan. Begitu juga dengan pakaian dan badan, setelah terpapar bakteri dari luar segera mandi dan dibersihkan.

Selain itu, penguatan fisik adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Konsumsi makanan sehat dan vitamin, mengurangi konsumsi makanan yang mengandung kadar gula tinggi, rajin olah raga juga vaksinasi, bisa memberikan proteksi dari dalam agar virus yang menyerang bisa ditangkal oleh daya tahan tubuh. Khusus untuk vaksin, kita tetap perlu meneliti kehalalannya, sehingga lebih teliti memilih jenis vaksin yang akan kita gunakan.

Setelah ikhtiar secara fisik, ikhtiar secara nonfisik, baik secara psikis maupun spiritual perlu kita lakukan. 
terlebih dalam situasi yang serba amburadul, bahkan nyaris tidak ada yang bisa diharapkan seperti saat ini. Melanggengkan zikir, zikir pagi dan petang, menjaga qiyamul lail, salat Duha, membaca Al-Qur’an, dan terus-menerus mengukuhkan iman. Terutama iman kepada qadha’ dan qadar, tawakal, rezeki, dan ajal. Selalu husnuzhan kepada Allah. Semoga Allah lapangkan kita, dalam apapun kondisinya. Semoga Allah jaga kita, sebagaimana kita berkehendak ,menjaga agamaNya. Aamiin.
Wallahu a’lam bi ash showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar