Recent Posts

Pahami Hidup dengan Syariah, Kunci Pernikahan Yang Berkah

Kamis, 08 Juli 2021





Oleh : Yauma Bunga Yusyananda
(Anggota Ksatria Aksara Kota Bandung)

Membangun hubungan untuk membentuk keluarga seharusnya menjadi cita-cita yang mulia bagi generasi untuk meneruskan keturunan dengan kesiapan ilmu, mental dan kemandirian serta tanggungjawab yang sudah terbentuk saat manusia tumbuh menghadapu dunia nya. Namun kenyataan hari ini, banyak timpang tindih dan dilematis. Orangtua diberikan pilihan-pilihan yang cukup menguras pikiran, disatu sisi pergaulan bebas marak terjadi dan disisi lain, tidak selalu setiap orangtua langsung "siap" menjadi orangtua untuk mengarahkan anaknya bahwa ada dunia dengan segala tantangannya yang harus dihadapi, termasuk membina keluarga baru alias pernikahan. 

Orangtua terlalu takut anaknya masuk ke dalam lingkaran pergaulan bebas, namun tidak sedikit anaknya yang sulit dibentuk untuk memiliki tanggungjawab dan kemandirian menanggung beban hidup pernikahan. Atau berbagai kasus lainnya, karena kenyataan hari ini, walau banyak orang yang menikah, tetapi tidak sedikit juga yang bercerai. 

Prof. Euis Sunarti sebagai guru besar IPB mengakui bahwa tingkat perceraian keluarga di Indonesia tinggi. Hal itu karena ragam masalah dan tantangan di setiap anggota keluarga. 

"Tingkat cerai tinggi sekitar 1.200 per hari atau 50 perceraian yang sah secara ketok palu per jam," ucap dia melansir laman IPB. Minggu (4/7/2021). (Kompas.com 04/07/2021)

Atau tidak lupa juga berita tentang viralnya antrean orang yang hendak bercerai di Soreang pada tahun 2019, Kabupaten Bandung. Gugatan perceraian yang masuk bisa sampai 150 gugatan per hari.  (cnnindonesia.com 24/08/2020)

Ada yang mengkaitkan bahwa perceraian meningkat karena tidak bisa terpenuhinya kebutuhan pokok, para kepala keluarga yang mencari nafkah harus terhenti karena pandemi dan akhirnya istri yang membantu suami, dan ketika suami tersinggung karena istrinya yang lebih banyak membantu keluarga, inilah yang sering menimbulkan konflik. Suami yang kasar, dan istri yang terdzalimi bak sebuah sinetron kehidupan. 

Padahal jika ilmu pernikahan sudah didapat diawal menjalankan hubungan karena Allah bernama pernikahan, maka ujian apapun bisa dihadapi dengan ilmu dan komitmen yang sudah dibuat diawal pernikahan. 

Kita harus memahami setiap fase hidup yang kita lalui, ada yang namanya ketetapan Allah dan ada juga yang menjadi wilayah usaha kita, tentu Allah Maha Mengetahui atas segala pilihan kita. Hanya saja makhluk Allah bernama manusia yang sering kali jauh dengan petunjuk-petunjuk Allah untuk menjalankan kehidupan. 
Islam sebagai syariat dan petunjuk Allah subhanahu wa ta'alaa memberikan tuntunan agar wabah dapat teratasi diawal dan roda ekonomi ataupun ibadah tetap berjalan dengan baik bagi yang tidak terpapar wabah, karena ilmu. 

Maka pernikahan pun akan sukses dunia akhirat karena ilmu, anehnya di zaman sekarang anak muda yang jauh dari agama ataupun nilai kehidupan dengan percaya dirinya mengambil langkah menikah dengan alasan takut berzina. Pemikiran takut akan zina nya sudah bagus, namun pembentukan karakter untuk memikul pernikahannya belum terbentuk pada mereka. 

Sehingga pernikahan yang berjalan, seolah "menghalalkan" hubungan tanpa ilmu yang mendalam. Yang kita harus pahami bahwa pernikahan adalah tanggungjawab. 

"Manfaat kelima (dari pernikahan) adalah menempa jiwa dan melatihnya supaya mampu memikul beban tanggung jawab penjagaan, pengaturan, pemenuhan terhadap hak-hak keluarga (istri), bersabar dalam menyikapi perilaku yang tidak baik dari mereka, menanggung segala hal yang menyakitkan dari mereka, berusaha memperbaiki dan membimbing mereka agar tetap berada di atas jalan agama, bersungguh-sungguh dalam mencari nafkah yang halal demi mereka serta ia mendidik anak-anaknya." (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, 2/31)

Maka kita harus memiliki pemikiran bahwa berkahnya pernikahan dibentuk dari generasi yang memahami Islam, bukan generasi yang sibuk dengan pemikiran diluar Islam dan ogah mencari ilmu untuk mengarungi kehidupan. Semoga kita mampu membentuk generasi yang menghargai ilmu, mencintai Islam kaffah dan memahami pernikahan dengan utuh bukan sekadarnya. Dari keluarga-keluarga muslim yang tercerdaskan Islam dan mampu memahami kehidupan dengan baik diharapkan mampu memperjuangkan Islam agar syariat-Nya tegak dan kekhikafahan kelak diisi oleh generasi muslim yang tangguh dan faqih fiddin. Aamiin yaa Rabbal'alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar