Recent Posts

Perjalanan Kebijakan Tanpa Kepercayaan

Senin, 12 Juli 2021



Oleh: Aprilina, SE.I*


Naiknya angka manusia yang terinfeksi Covid-19, memaksa kurva penyebaran wabah penyakit ini terus mendaki dengan pasti. Upaya pencegahan yang tidak konsisten, menuai hasil jauh dari harapan. Ibarat jauh panggang dari api. 

Jumlah penduduk Indonesia yang terkonfirmasi Covid-19 berjumlah 2,53 juta kasus (Dari JHU CSSE COVID-19 Data, 10/07/2021). Tingginya angka penduduk yang terkonfirmasi Covid-19 membuat masyarakat resah dan dihantui rasa khawatir. Kekhawatiran mereka bertambah dengan minimnya fasilitas kesehatan yang tersedia untuk menangani pasien Covid-19. Hal ini menjadi faktor penyebab turunnya imunitas tubuh masyarakat. Ditambah lagi, tidak adanya edukasi dari pemerintah terkait  penyakit ini.

Sampai hari ini, upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 belum menunjukkan hasil yang maksimal. Hal ini disebabkan karena lemahnya kontrol negara terhadap pencegahan dan penularan wabah ditengah-tengah masyarakat melalui penerapan protokol kesehatan. Selain itu, kebijakan PSBB, New Normal dan PPKM saat ini tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari masyarakat. Masyarakat tidak mempercayai lagi program penanganan wabah. Mereka sudah tidak percaya bahwa virus Covid-19 ini ada. Ada sebagian masyarakat yang menganggap wabah ini merupakan konspirasi pihak tertentu untuk mengambil keuntungan dari program penanganannya. Ada pula yang menganggap bahwa wabah Covid-19 ini merupakan upaya untuk melumpuhkan perekonomian masyarakat. Bahkan pendapat yang ekstrim ialah masyarakat yang menganggap bahwa isu wabah ini sengaja dibesar-besarkan untuk membunuh karakter lawan politik rezim yang sedang berkuasa.  

Opini yang berkembang ditengah-tengah masyarakat ini bukanlah tanpa alasan. Bahwasanya ketidakjelasan informasi dan  minimnya edukasi terhadap mereka mengenai virus ini merupakan penyebab utama bergulirnya terus propaganda yang menyesatkan. Selain itu, sikap pemerintah dari awal adanya virus ini terkesan mengabaikan. Ketika masyarakat mulai menunjukkan kekhawatiran penyebaran virus Covid-19 dari Wuhan, pemerintah mengeluarkan pernyataan yang tidak menunjukkan sikap waspada. Diantaranya ada pejabat negara yang mengatakan bahwa, virus Covid-19 tidak akan menyerang Indonesia karena iklim yang tropis. Virus ini tidak bisa hidup dan berkembang di iklim yang tropis. Bahkan ada yang mengatakan penduduk Indonesia kuat-kuat karena terbiasa minum jamu sehingga tidak akan terpapar virus Covid-19 (news.detik.com, 2 april 2020). Ada juga yang mengatakan bahwa penduduk Indonesia kebal Corona karena sering makan nasi kucing (Republika.co.id, 17 Februari 2020). Lelucon ini diikuti dengan sikap tidak cepat tanggap terhadap penyebaran wabah Corona. Sehingga ketika mengetahui ada penduduk Indonesia yang positif Covid-19, pemerintah gagap menanganinya. 

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah inilah yang menjadi sumber  naiknya jumlah orang yang terkonfirmasi Covid-19. Masyarakat tidak melaksanakan protokol kesehatan karena mereka melihat para pejabat negara ada yang tidak mematuhi protokol kesehatan, keadaannya baik-baik saja. Mereka tidak diberi sanksi apapun terhadap pelanggaran tersebut. Apalagi kondisi kesehatan mereka diketahui baik-baik saja sekalipun tidak menggunakan masker, traveling keluar kota dan tampak hadir dalam acara-acara yang ramai pesertanya. 

Beginilah realitas gambaran pemimpin yang tidak menerapkan aturan Islam dalam kehidupannya. Melakukan suatu perbuatan berdasarkan keinginan dan tidak memikirkan keselamatan masyarakat. Tidak berpikir panjang bahwa keberadaannya sebagai pemimpin masyarakat akan senantiasa diperhatikan dan ditiru oleh sebagian besar rakyatnya. Lain kebijakan yang ditandatangani, lain pula perbuatan yang dilakukan. Lain kata keluar dari lisan, lain pula perbuatan yang dilakukan. Inilah fakta kemunafikan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda:

Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta; jika berjanji ia tidak menepati, jika diberi amanat ia berkhianat.” [HR. Muslim]

Maka berharap agar masyarakat  mau melaksanakan seluruh kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sama dengan masyarakat berharap kepada pemimpin yang munafik untuk amanah. Sangat sulit. Bahkan bisa dikatakan mustahil. Karena tidak amanah termasuk salah satu ciri orang munafik. Bagaimana mungkin berharap pada orang munafik untuk amanah, jujur dan menepati janji?

Kemustahilan ini didukung dengan sistem pemerintahan demokrasi yang dijalankan. Ideologi Kapitalisme dengan sekulerisme sebagai akidahnya menjadikan orang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga tidak ada rasa takut ketika melanggar perintah Allah SWT. Dalam menjalankan sistem pemerintahan ini, seorang pemimpin bebas melaksanakan aturan apapun sesuai dengan keinginannya. Sistem demokrasi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, yaitu kepuasan materi. 

Maka dari itu, satu-satunya cara  untuk mewujudkan kepemimpinan yang amanah dan mengembalikan kepercayaan masyarakat ialah dengan mengganti sistem kapitalisme dengan sistem Islam. Akidah Islam yang menjadi landasan penerapan sistem Islam menghadirkan ruh pada setiap perbuatan yang dilakukan. Adapun yang dimaksud dengan ruh disini adalah kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah SWT sebagai penciptanya. Kesadaran ini muncul dari keimanan dan keyakinan manusia bahwa Allah SWT sebagai Al-Khaliq (Pencipta) sekaligus Al-Mudabbir (Pengatur). Maka ketika seorang muslim beriman kepada Allah SWT, dia meyakini Allah sebagai penciptanya dan pengaturnya. Seluruh aspek kehidupan manusia harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan-Nya. Ketaatan manusia pada seluruh aturan Allah SWT merupakan bukti keimanannya. Inilah yang menghantarkan seorang muslim pada derajat takwa. Seorang muslim yang bertakwa ialah yang memiliki rasa takut untuk berbuat maksiat kepada Allah. Rasa takut ini yang menjauhkan seseorang pada sifat kemunafikan. Sebab sifat-sifat yang ada pada orang munafik merupakan sifat-sifat tercela yang sangat dibenci Allah SWT. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (TQS. Al-Baqarah [2]:15)

Dalam surat at -Taubah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik." (TQS. At-Taubah [9]: 67)

"Wahai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."
(TQS. At-Taubah [9]:73)

Rasulullah SAW pun berpesan mengenai orang munafik.  Abdullah bin Mas’ud ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah kepada suatu umat sebelumku melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut setia (hawariyyun) dan sahabatnya yang mereka mengambil sunnahnya dan mentaati perintahnya. kemudian datang setelah mereka orang-orang yang mengatakan apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, ia juga seorang mukmin. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawipun”. (HR. Muslim).

Dengan demikian, kemunafikan hanya bisa dihilangkan dengan memeranginya melalui kekuasaan dan lisan orang-orang shaleh. Menyampaikan kebenaran dan terus berupaya mendakwahkan kewajiban taat kepada Allah SWT sebagai bukti keimanan yang sempurna kepada-Nya. 

 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."
(TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Ketakwaan akan menghantarkan pada keberkahan hidup dan mendatangkan rahmat Allah SWT. Sehingga seluruh permasalahan bisa diselesaikan dengan baik, tidak hanya masalah pandemi.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (TQS. Al-A'raf [7]: 96)


Wallahu a'lam.

*Aktivis Muslimah Peduli Umat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar