Recent Posts

Perjuangan Mahasiswa, Sudahkah ke Arah Kebangkitan Hakiki?

Minggu, 04 Juli 2021



Oleh : Aghnia Yanisari (Aktivis BMIC Kalsel)

 

Hidup Mahasiswa! Begitulah slogan yang disemarakkan oleh sekumpulan mahasiswa yang tak gentar menyuarakan aspirasinya di depan gedung DPRD untuk kedua kalinya pada Kamis, 24 Juni lalu, setelah sebelumnya juga melakukan aksi pada Senin, 21 Juni, namun dirasa gagal karena tidak ada tindaklanjut dari Presiden padahal surat permohonan sudah diajukan ke Istana Negara oleh Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Selatan, Rahmah Norlias. (Banjarmasin Post/24/06/2021).

Pada aksi yang pertama massa demonstrasi sudah mengajukan surat tuntutan yang disaksikan oleh Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Selatan, berisi tentang permohonan kepada Presiden agar membatalkan penonaktifan 75 pegawai KPK yang tak lolos twk, hingga membentuk tim investigasi, serta meminta penjelasan BKN tentang indikator merah dan hijau yang dikaitkan dengan pegawai KPK, namun hingga hari ini tidak ada jawaban apapun dari Istana Negara. (Kompas TV/22/06/2021).

Untuk kesekian kalinya mahasiswa menuntut keadilan di negeri ini, berharap hidup damai sejahtera bisa didapatkan. Untuk kesekian kalinya mahasiswa harus menerjang terik dan badai demi aspirasi mereka didengar. Untuk kesekian kalinya mahasiswa maju tak gentar melawan ketertindasan. Meski harus menerima sakitnya pukulan dari aparat, letihnya menunggu di depan gedung wakil rakyat, namun mereka tetap berjuang. Kita mungkin masih ingat dengan gerakan reformasi yang berhasil melengserkan suharto, atau aksi beberapa tahun lalu yang menghebohkan seluruh Indonesia terkait RUU KUHP, Omnibus Law, hingga aksi melawan pelemahan KPK, namun apa yang didapat? hanyalah kekecewaan. Demonstrasi tak kunjung usai membuat jera para penguasa untuk berhenti melakukan kezaliman. Dari tahun ke tahun negeri ini selalu mengalami permasalahan yang semakin pelik.

Berbagai macam tuntutan mulai dari mencabut undang-undang hingga menuntut pergantian rezim selalu disuarakan, namun ternyata tidak berhasil menghentikan kezaliman. Sudah berapa lembar surat yang diajukan ke Istana Negara melalui wakil rakyat hanya berakhir dengan lembaran yang seakan tak berharga. Kalaupun aspirasi berhasil didengar, namun itu hanya sebentar. Besoknya mulai lagi dengan kezaliman yang baru. Kalaupun rezim berhasil digantikan, namun korupsi, kedustaan, pengkhinatan, sikap otoriter masih saja dilakukan. Lantas harus dengan apa negeri ini bisa berubah? Dari jahiliyah menuju negeri yang berkah? Jauh dari kezaliman, pengkhianatan, kebohongan oleh para penguasa.

Mahasiswa harus memahami akar masalahnya, sehingga mendapatkan solusi tuntas bukan solusi pragmatis. Mahasiswa harus melihat dari berbagai lini, apa dan mengapa permasalahan di negeri ini tak kunjung berhenti, benarkah hanya sekedar kinerja seseorang saja yang tidak becus mengurus negara, atau ada sumber lain yang mendasari kezaliman hari ini. Jika ditelaah lebih dalam, ternyata problematika yang tak kunjung usai melanda negeri ini bukan hanya tentang siapa yang mengatur negara, tapi dengan apa ia mengatur. Persoalan hari ini bukan lagi tentang kebijaksanaan oleh penguasa, tapi sudah menyangkut ideologi yang diterapkan oleh negara. Jika mahasiswa menggantungkan arah pergerakan pada belas kasihan rezim, bisa dipastikan pergerakan mahasiswa akan gagal. Aksi mahasiswa akan dibeli dengan undangan santap siang di istana. Jika mahasiswa menari mengikuti irama yang ditabuh rezim, selesailah sudah perjuangan. Amanat rakyat yang menuntut perubahan hakiki tak akan tertunaikan.

Korupsi di tidak bisa dihentikan hanya dengan memukul mundur tokoh tertentu, karena korupsi bukan hanya berasal dari lalainya seseorang menjaga amanah, namun juga berasal dari penerapan sistem yang salah. Semua problematika akan terus berlanjut. Pola kehidupan di dalam ideologi Kapitalis yang dianut saat ini tidak akan bisa memberi keadilan. Ideologi yang hanya mementingkan bagaimana caranya bisa mendapatkan modal yang banyak agar bisa berkuasa, bukan untuk menyejahterakan banyak orang. Ideologi yang hanya mementingkan perut para kapital bukan untuk kepentingan rakyat. Undang-undang yang selama ini dibuat adalah jalan pemulus para kapital untuk semakin memeras darah rakyat. Bisa kita liat dari sistem ekonomi yang selalu diterapkan pajak tiada henti seiring hutang terus naik sementara gaji para petinggi sudah diambang batas kewajaran, ujung-ujungnya berita korupsi merebak dimana-mana. Sistem pendidikan yang mulai dimanipulasi dengen berbagai macam program agar senantiasa bisa terus dekat dengan korporasi. Pelayanan kesehatan yang selalu dikapitalisasi, hingga sumber daya alam yang diswastanisasi. Sistem pemerintahan demokrasi hanya berhasil menciptakan undang-undang lemah, yang tak mampu memenuhi kebutuhan seluruh manusia. Semua ini berawal dari ideologi rusak yang menyesatkan, jauh dari keberkahan.

Jika mahasiswa ingin perjuangannya tak sia-sia, maka sudah seharusnya dari sekarang mengubah arah perjuangan. Tidak hanya sekedar menuntut belas kasihan rezim, atau melengserkannya, tapi sudah menuju pada perubahan hakiki, yakni mencabut ideologi kapitalis dan menggantikannya dengan penerapan ideologi yang benar. Bukan diganti dengan Ideologi Sosialis-Komunis yang telah terbukti hanya menyengsarakan manusia, tetapi harus diganti dengan ideologi yang hanya berasal dari pencipta manusia, yakni Allah swt. Karena Allah-lah yang paling tau apa yang dibutuhkan oleh ciptaanNya. Islam sebagai satu-satunya aturan yang Allah ciptakan untuk manusia. Maka menerapkan ideologi Islam adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Sejarah mengatakan bahwa Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan Islam yang pernah berjaya selama kurang lebih 13 abad, menunjukan eksistensinya sebagai satu-satunya sistem pemerintahan yang diidam-idamkan. Bagaimana tidak, khilafah mampu menindak para koruptor dengan sanksi yang sangat berat, menghilangkan berbagai bentuk penjajahan, membebaskan negeri-negeri yang dizalimi, dan menghalau setiap pemikiran liberal, sehingga masyarakat bisa hidup dengan tenang di bawah naungan khilafah Islamiyah. Umat muslim pun hidup rukun bersama non-muslim. Namun semenjak keruntuhannya yang dilakukan oleh penjajah kafir bersama mustafa kemal, membuat negara Islam terpecah belah menjadi negara-negara kecil nasionalis. Perpecahan ini yang membuat para penjajah semakin mudah menjarah dengan gaya-gaya baru. Sudah saatnya mahasiswa memperjuangkan kebangkitan hakiki, memperjuangkan penerapan Khilafah Islamiyah.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar