Recent Posts

Tak Cukup dengan Doa Bersama Agar Wabah Segera Sirna

Rabu, 14 Juli 2021



Oleh: Rindoe Arrayah

             Wabah covid-19 hingga kini belum juga usai. Melihat kebijakan pemerintah yang senantiasa setengah hati dalam menangani wabah, tidak bisa diprediksi sampai kapan wabah akan menyertai negeri ini.

Abdul Halim Iskandar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa dan warga desa untuk menggelar doa bersama. Dalam surat resmi tersebut, Halim mengimbau agar seluruh pihak melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing di rumah masing-masing. Adapun doa ini dilakukan guna menyikapi kondisi melonjaknya angka COVID-19 di Indonesia.

"Doa bersama dilakukan bersama keluarga di rumah masing-masing," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/7/2021).

"Tetap waspada, jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan; cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, selalu pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, kurangi mobilitas dan jangan lupa senantiasa memanjatkan doa," pesan Halim Iskandar.

Doa bersama keluarga ini diharapkan digelar secara rutin di desa-desa, yang dimulai serentak pada Minggu (4/7/2021) pukul 18.00 Waktu setempat di kediaman masing-masing.

Adanya imbauan doa bersama dari Mendes PDTT  tersebut jelas menunjukkan pengakuan bahwa kita sebagai manusia sangat butuh pertolongan Allah Swt, Sang Pencipta alam semesta ketika menghadapi wabah saat ini. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia semakin meningkat tajam. Bahkan menurut penilaian para ahli, saat ini kita sudah berada di kondisi kritis.

"Saat ini pandemi Covid-19 di Indonesia sudah memasuki fase kritis," kata Dr dr Eka Ginanjar SpPD K-KV FINASIM FACP FICA MARS, Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Kardiovaskular), Minggu (27/6/2021).

Hal itu disampaikan dr Eka dalam jumpa pers virtual Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama Perhimpunan 5 Profesi Dokter tentang Seruan PSBB Ketat Tentang Melonjaknya Kasus Covid-19 di Indonesia.

Suatu hal yang sangat penting bagi kita untuk tidak menyepelekan aktifitas berdoa karena doa adalah ibadah. Bahkan Allah Swt juga menjanjikan bahwa doa yang dipanjatkan pasti akan dikabulkan. 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu terbimbing dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Maka, sangatlah tepat imbauan Mendes PDTT untuk mengadakan gerakan berdoa bersama keluarga tersebut ditujukan kepada warga yang tinggal di pedesaan. Karena terbukti, pada Senin (28/6), jumlah warga di desa terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 257.335 orang.

Bahkan, jumlah tersebut belum termasuk data desa di Provinsi Maluku Utara. Pasalnya provinsi ini masih dalam proses pembaruan data.

“Secara umum, berdasarkan data yang masuk ke Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) dari data desa terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 257.335. Jumlah ini minus Provinsi Maluku Utara karena masih dalam proses update,” ucap Halim Iskandar, Senin (28/6).

Hal yang tidak boleh luput dari perhatian adalah, imbauan doa bersama tersebut seharusnya tidak hanya ditujukan kepada keluarga-keluarga di desa saja tapi juga diserukan untuk keluarga-keluarga di kota, termasuk juga keluarga-keluarga pejabat dan para pengambil kebijakan di negeri ini. Mengingat bahwa wabah Covid-19 ini tidak hanya terjadi di desa tapi juga di kota. Tidak hanya warga desa yang terpapar, tapi juga warga kota termasuk para pejabat dan penentu kebijakan di negeri ini.

Jika benar kita membutuhkan pertolongan Allah Swt, seharusnya tidak sekadar mengelar doa bersama keluarga yang harus dilakukan, namun juga taubat masal, taubatan nasuha seluruh masyarakat dan elemen pemerintah untuk kembali tunduk sepenuhnya kepada hukum Allah Swt secara kaffah, dalam urusan pribadi, urusan keluarga, urusan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menyadari kesalahan, ketidak adilan dan kedzaliman yang telah dilakukan penguasa selama ini kepada rakyatnya, seraya memperjuangkan perubahan sistem dan aturan kehidupan agar sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw dan dilanjutkan oleh para Khulafa'ur Rasyidin.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu institusi untuk bisa menerapkan syariat-Nya secara keseluruhan di seluruh alam, yaitu Khilafah Islamiyah. Institusi inilah yang akan mengantarkan masyarakat menuju kehidupan yang penuh dengan keberkahan.

Wallahu ta'ala a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar