Recent Posts

Tak Sekedar Doa Tapi Bertaubatlah

Kamis, 08 Juli 2021



Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom
(Aktivis Muslimah Peradaban Aceh)


Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa dan warga desa untuk menggelar doa bersama. Dalam surat resmi tersebut, Halim mengimbau agar seluruh pihak melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Adapun doa ini dilakukan guna menyikapi kondisi melonjaknya angka Covid-19 di Indonesia (Detik.com, 3/7/2021).


"Doa bersama dilakukan bersama keluarga di rumah masing-masing," ujarnya. Halim berharap doa bersama dapat digelar secara rutin yang dimulai serentak pada hari ini pukul 18.00 waktu setempat di kediaman masing-masing.


"Dalam doa memohon kepada Allah SWT dan Tuhan yang Maha Esa agar pemimpin dan seluruh warga negara Indonesia diberikan kesehatan, keselamatan dan perlindungan dari wabah Covid-19," katanya. Halim pun mengimbau agar seluruh pihak berdoa agar kuat dan tabah menghadapi Pandemi. Selain itu, mereka juga diimbau untuk mendoakan pemimpin dan masyarakat Indonesia supaya dapat saling membantu dan menguatkan, serta bergotong royong dalam menangani pandemi Covid-19.


Manusia Itu Makluk Lemah dan Tak Berdaya


Imbauan doa bersama oleh Mendes kepada masyarakat, mengisyaratkan bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk lemah dan tak berdaya, yang membutuhkan sang khaliq. Ini juga artinya kita mengaku bahwa manusia butuh pertolongan Allah untuk menghadapi wabah. Tidak ada yang salah dengan doa, sebagai makhluk memang itulah kewajiban kita setelah semua ikhtiar kita lakukan. Doa menjadi yang terakhir, namun sudahkan pemerintah melakukan semua ikhtiar itu secara maksimal? Dan mengapa bukan pemimpinnya yang meminta masyarakat untuk berdoa.


Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak pernah serius dan maksimal mengani wabah ini. Entah apa saja yang dilakukan pemerintah setahun belakangan ini, sehingga masyarakat pun mulai ragu terhadap keseriusan pemerintah menangani wabah. Bukan masyarakat tak percaya adanya wabah yang mematikan ini dengan variasi mutasinya yang baru. Namun masyarakat menilai bahwa pemerintah terlalu plin-plan bahkan terkesan menganggap enteng masalah ini. Lalu akhirnya menyalahkan masyarakat yang tidak taat  prokes dan dipidanakan dengan mudahnya. 


Dimana letak keseriusan pemerintah menangani wabah ini? bahkan wabah ditangani oleh orang yang tidak memahami kesehatan. Alangkah lucunya ketika sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, sehingga ia tidak dapat memprediksikan apa yang akan terjadi kedepan. Setidaknya pemerintah berusaha dulu semaksimal mungkin sehingga masyarakat pun tak kehilangan kepercayaannya. Bahkan harapan mereka,  pemerintah bakal melindungi nyawa mereka pun kini sirna. 


Pemerintah seolah lepas tangan dengan nyawa masyarakat di negeri ini, toh inilah kehidupan mereka. Tugas pemerintah seolah selesai dengan cukup mengatakan jaga prokes tanpa pengawalan, sungguh aneh bukan? Maka wajar jika di daerah-daerah, prokes itu bukanlah kewajiban pemerintah lagi, rakyat pun bukan mereka tak menyayangi nyawanya namun mereka juga beranggapan bahwa pemerintah juga sudai mengabaikannya.


Masyarakat Kehilangan Kepercayaannya


Himbauan Mendes kepada Masyarakat harusnya menyadarkan bahwa sesungguhnya pemerintahlah yang harus terdepan dalam setiap aktivitasnya.  Inilah yang kemudian dikatakan bukan hanya omongan saja, namun kebijakannya juga harus dipertanggung jawabkan. Pemerintah adalah pelindung, yang harusnya memberikan contoh dan teladan yang baik untuk di ikuti oleh masyarakat. Jika pemerintah saja plin-plan dan tidak tegas bagaimana lagi masyarakat? Belum lagi dikala pandemi berlangsung fasilitas seperti kesehatan tidak memadai, banyak para nakes yang kemudian berguguran demi menolong pasien yang terkonfirmasi Covid. 

Siapa yang harus di dengar oleh masyarakat jika bukan pemerintah. Sebaliknya ketika pemerintah menutup matanya dan menerima TKA masuk juga menutup telinganya disaat rakyat menjerit, maka hal yang sama pula dilakukan oleh masyarakat. Alasan-alasan yang tak masuk logika pun direkayasa agar umat percaya, namun umat terlanjur kecewa. Pemerintah tak adil pada rakyat,  negeri ini itu sudah terlihat jelas, rasa sayang dan cinta pada rakyat ini seolah telah mati. Akhirnya masyarakat hanya berpasrah diri menjaga keluarganya semampunya meski sebenarnya tak mampu juga. Wallahu a' lam bish showab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar